Fenomena kisah viral dari siniar Lentera Malam yang telah menembus 25 juta penonton akhirnya resmi diangkat ke layar lebar melalui film Putri Jangan Gentayangan Lagi. Pasalnya, rumah produksi MVP Pictures berani mengambil langkah besar dengan mengubah rekaman suara mistis tersebut menjadi sajian sinema horor yang sarat muatan emosional.
Cerita nyata yang dialami seorang ibu tunggal asal pinggiran kota ini bukan sekadar mengeksploitasi penampakan hantu lokal yang menakutkan. Namun, narasi film justru berpusat pada kepedihan mendalam seorang orang tua yang kehilangan anak sulungnya dalam kondisi mengenaskan.
Produser legendaris Raam Punjabi meyakini bahwa kekuatan utama proyek layar lebar ini bertumpu pada keyakinan terhadap orisinalitas cerita rakyat modern. Selain itu, kolaborasi antara sineas berpengalaman dan materi audio yang sudah memiliki basis pendengar masif menjadi modal utama memikat penonton bioskop.
Paduan Tragedi Nyata dalam Film Putri Jangan Gentayangan Lagi
Sutradara kondang Rizal Mantovani memadukan elemen horor supranatural dengan konflik internal keluarga yang sangat menyayat hati. Sementara itu, sang nakhoda film berusaha menjaga keseimbangan antara fakta kejadian riil di lapangan dan kebutuhan dramaturgi layar perak.
“Ya, baik, terima kasih. Jadi, salah satu yang bikin sangat tertarik adalah sebenarnya ceritanya ya. Ceritanya mengenai tragedi keluarga, digabungkan dengan horor supranatural, dan dia diangkat dari sebuah kisah nyata ya. Jadi saya rasa ketiga kombinasi itulah yang membuat kami merasa yakin bahwa ini sebuah cerita yang pantas untuk diangkat,” ujar Rizal Mantovani saat ditemui di gala premiere yang dihelat di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (30/10).
Pendekatan penyutradaraan difokuskan pada rasa kesepian dan penyesalan mendalam yang membayangi karakter utama sepanjang cerita bergulir. Alhasil, atmosfer teror yang disajikan tidak hanya memacu adrenalin lewat kejutan visual, tetapi juga mengaduk-aduk batin audiens.
Jeritan Penyesalan Sang Ibu di Balik Judul Doa
Penulis skenario Alim Sudio menganggap pemilihan judul film mengandung pesan permohonan yang teramat pilu dari sanubari seorang ibu. Di sisi lain, sang peracik naskah melihat adanya jalinan kasih sayang keluarga yang terlambat tersampaikan hingga maut menjemput.
“Dan buat saya kayak ada, ada elemen amat sangat kuat di situ. Dan ternyata begitu dengar ceritanya, ya apa yang digali sama teman-teman Lentera Malam dan kemudian juga dari cerita, ya saya merasa bahwa ini sebenarnya ini adalah soal kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya ya tidak tersampaikan atau tidak terkomunikasikan,” jelas Alim Sudio.
BACA JUGA:Â Perankan Cowok Sempurna, Marcel Darwin Siap Bikin Ngakak di Naik Level
Kehadiran sosok Mak Eli asli di barisan kursi penonton berhasil menyedot keharuan seluruh tamu undangan yang memadati studio bioskop. Pasalnya, wanita paruh baya tersebut tidak kuasa menahan derai air mata saat menyaksikan kembali miniatur perjuangan hidupnya di layar raksasa.
“Ya menurut saya apa yang saya lihat hari ini itu semua sama. Enggak ada yang berbeda ceritanya, untuk sehari-hari, untuk perjuangan saya, untuk semua konflik keluarga itu semua sama,” tutur Mak Eli.
Sentuhan Budaya Lokal dan Horor Bernyawa
Perwakilan kreator Lentera Malam Jamal meyakini keterikatan emosional penonton akan terjalin sangat kuat berkat potret kehidupan masyarakat pinggiran yang autentik. Selanjutnya, konflik pergaulan anak muda dan dinamika hubungan antartetangga Betawi-Bekasi disajikan secara apa adanya tanpa polesan klise.
Rizal Mantovani bahkan meminimalisasi penggunaan efek visual komputer pada adegan hantu melayang demi menghadirkan rasa ngeri yang organik. Oleh karena itu, sosok arwah gentayangan di lorong gang sempit tetap diperankan langsung oleh sang aktris dengan teknik manipulasi kamera praktikal.

Foto by hypetoday.id
Film Putri Jangan Gentayangan Lagi bercerita tentang Mak Eli yang berjuang sebagai ibu tunggal sebelum putri sulungnya meninggal secara tragis dan arwahnya bergentayangan menghantui kampung. Menampilkan akting memukau dari Kinaryosih, Kawai Labiba, Fadi Alaydrus, Denisha, hingga Yeyen Lydia, film berdurasi 104 menit klasifikasi 13+ garapan sutradara Rizal Mantovani ini siap tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.
Hype Highlights:
-
-
- Diadaptasi dari siniar viral Lentera Malam yang telah ditonton lebih dari 25 juta kali di YouTube.
- Menggabungkan fakta tragedi keluarga nyata dengan teror supranatural tentang penyesalan kasih sayang ibu.
- Mak Eli asli menangis haru di gala premiere karena film dinilai 100% akurat merekam penderitaan hidupnya.
- Dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 November 2026 berdurasi 104 menit.
-
