Penyanyi senior Chandra Satria resmi meluncurkan karya sinematik terbarunya bertajuk trilogi musik Dan Bila Esok di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Proyek ambisius ini memadukan tiga lagu pilihan ke dalam rangkaian film pendek yang saling bertautan erat.
Solois kawakan yang berkarier hampir tiga dekade tersebut merancang terobosan baru untuk memanjakan penikmat seni audio visual Tanah Air. Selain itu, ia ingin pendengar tidak sekadar mendengarkan melodi, melainkan turut menyelami narasi emosional di balik liriknya.
Gagasan kreatif ini sebenarnya sudah mengendap lama di benak sang vokalis sebelum akhirnya dieksekusi secara nyata pada tahun lalu. Namun, kendala biaya produksi sempat membuat realisasi konsep visual tersebut tertunda cukup panjang.
“Keinginan bikin konsep ini sudah lama, cuma kan UUD ya (ujung-ujungnya duit). Tahun lalu memberanikan diri memulai ide ini,” kata Chandra.
Kolaborasi Lintas Negara dalam Trilogi Musik Dan Bila Esok
Proyek sinematik ini kian matang setelah Chandra Satria menuntaskan rekaman bersama musisi papan atas seperti Sheila Majid dan Dewi Lestari. Pasalnya, kolaborasi apik tersebut memicu inspirasi untuk menjahit deretan lagu menjadi satu jalinan cerita utuh.
“Tahun lalu duet sama Sheila Majid, lagu kedua dengan lagu Dan, lalu lagu dengan Dewi Lestari. Jadi setelah lagu itu jadi, berpikir bagaimana ya. Gue ingin bikin ini jadi cerita pendek,” jelasnya.
Musisi berpengalaman ini meyakini setiap komposisi nada memiliki kekuatan narasi mendalam yang layak ditampilkan ke layar lebar. Oleh karena itu, ia bertekad membawa pendengar menjelajahi dimensi visual yang lebih hidup dan menyentuh.
“Saya selalu percaya bahwa lagu itu punya cerita. Setelah sekian lama berada di dunia musik dan pertunjukan, saya ingin membawa cerita tersebut lebih jauh. Bukan hanya didengar, tetapi juga bisa dilihat, dirasakan, dan diikuti perjalanannya,” ujar Chandra Satria.
Sentuhan Tangan Dingin Para Sineas Layar Lebar
Chandra Satria menggandeng penulis skenario kawakan Titien Wattimena serta sutradara berbakat Agung Sentausa guna mematangkan konsep ceritanya. Selanjutnya, kedua sineas tersebut merancang alur cerita sinematik agar ketiga lagu menyatu secara harmonis.
“Akhirnya konsultasi sama Mbak Titin sama Agung. Akhirnya nekat membuat trilogi ini. Jadi ini tiga lagu yang digabung jadi satu. Aku juga terima kasih sama teman-teman yang main di sini,” imbuh Chandra.
BACA JUGA: Film Yang Disebut Nakal Soroti Jurang Komunikasi Orang Tua dan Anak
Titien Wattimena memilih pendekatan struktur tiga babak agar setiap segmen tetap memiliki daya tarik cerita yang solid. Sementara itu, sang penulis skenario harus memastikan setiap bagian tetap berdiri kokoh meski dinikmati secara terpisah oleh penonton.
“Awalnya ketika Chan datang ke aku, untung cuma tiga ya. Kebetulan karena cuma tiga, secara penulisan cerita bisa pakai struktur tiga babak lah. Tapi tantangannya setiap babak ketika dilepas harus bisa berdiri sendiri. Secara cerita kita mencoba mencari sesederhana mungkin tapi insyaallah bisa menyentuh perasaan sih,” tutur Titien.
Eksplorasi Visual Sinematik dan Kemegahan Orkes Musik
Sutradara Agung Sentausa memikul tanggung jawab besar untuk menerjemahkan getaran emosi lagu ke dalam bingkai visual yang memukau. Di sisi lain, ia bertekad menyuntikkan napas dan nyawa baru ke dalam karya musikal tersebut melalui bahasa visual.
“Sebenarnya dari lagunya sudah ada, dicoba ditulis kisahnya sama Titin. Kadang ada kepengen visualnya terpisah berdiri sendiri, ini kita coba dan aku merasa ini semua harus direalisasikan untuk nafas dan nyawa dari lagu itu sendiri,” kata Agung.
Kekuatan audio proyek ini semakin megah berkat keterlibatan komposer Tohpati, Ivan Tangkulung, serta Budapest Scoring Orchestra. Selain itu, lagu legendaris Dan ciptaan Eross Candra turut dihadirkan dengan balutan aransemen orkestrasi yang sangat segar.
Seluruh rangkaian film pendek ini kini sudah dapat dinikmati publik secara cuma-cuma melalui platform YouTube resmi. Alhasil, penonton dapat langsung meresapi pesan mendalam tentang dinamika hubungan dan perjuangan menggapai impian.
“Tonton filmnya, resapi, ini tentang berbagai karya dan mimpi Dan Bila Esok,” pungkas Chandra.
Hype Highlights:
-
-
- Chandra Satria merilis proyek “Dan Bila Esok”, mengombinasikan trilogi musik dan film pendek sinematik yang saling terhubung.
- Proyek ini melibatkan kolaborasi vokal lintas negara bersama diva legendaris Malaysia Sheila Majid dan penulis-musisi Dewi Lestari.
- Penulis skenario Titien Wattimena dan sutradara Agung Sentausa menggarap visualnya memakai pendekatan narasi struktur tiga babak.
- Sektor musik digarap megah lewat aransemen Tohpati, Ivan Tangkulung, hingga iringan orkestrasi dari Budapest Scoring Orchestra.
-
