Sunday, November 8, 2026

Sejarawan Bongkar Alasan Kebiasaan Makan Cabai Warga RI Mendarah Daging

Linimasa media sosial X mendadak riuh membahas kebiasaan makan cabai masyarakat nusantara setelah sebuah akun menceritakan pengalaman seorang pria India yang menikahi perempuan Indonesia. Pasalnya, sang suami mengalami syok hebat hingga berulang kali lari ke toilet akibat menu harian sang istri yang selalu sarat cita rasa pedas membakar.

Unggahan viral dari akun @f******ut pada Sabtu (23/8/2025) tersebut seketika memantik rasa penasaran warganet mengenai akar budaya kuliner pedas di Tanah Air. Oleh karena itu, banyak publik bertanya-tanya mengapa lidah masyarakat lokal sangat sulit berpisah dari sensasi menyengat cabai setiap kali menyantap hidangan.

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, menegaskan bahwa tanaman cabai sejatinya bukan komoditas asli kepulauan nusantara, melainkan flora kiriman dari Benua Amerika. Selanjutnya, penjelajah Spanyol dan Portugis membawa bibit tanaman tersebut masuk ke Indonesia pada abad ke-16 hingga akhirnya tumbuh subur di iklim tropis.

Jelajah Sejarah Cabai, Mengapa Begitu Dicintai?

Heri Priyatmoko menerangkan fakta historis tersebut. Selain itu, sang akademisi mencatat bahwa persilangan budidaya selama ratusan tahun berhasil melahirkan variasi tingkat kepedasan unik, mulai dari cabai merah, cabai rawit, hingga cabai manis.

Di sisi lain, cabai merah dan rawit memikat perhatian petani Jawa karena mampu memicu nafsu makan secara biologis. Bahkan, warna merah menyala pada olahan sambal terbukti merangsang kinerja enzim pencernaan manusia secara alami.

“Rasa pedas dari cabai atau sambal bisa memompa selera makan karena bantuan enzim amilase. Sekalipun kepedasan, kita tidak kapok, justru makin dekat,” ungkapnya seperti dikutip dari kompas.com.

Jejak Magis Sambal, Hadir dalam Serat Centhini 1823

Fakta sejarah membuktikan bahwa kebiasaan makan cabai masyarakat nusantara melampaui urusan meja makan dan kepuasan lidah semata. Pasalnya, Heri menelusuri catatan kuno Serat Centhini bertarikh 1823 yang memuat cabai sebagai ubarampe penting sesaji ritual adat kaum bangsawan Jawa.

“Seperti dalam serat tua itu bahwa sepeninggal Seh Amongraga, Niken Tembanglaras yang bermukim di wewengkon Wanamarta selalu sembahyang, mengaji, dan bersedekah,” kata Heri. “Seriap Jumat, Senin, dan Kamis kliwon senantiasa menyorongkan sedekah yang ditujukan kepada para Ambiya (nabi) berupa nasi langgi, ikan, ayam, dan lalapan, sambal, semuanya bersih,” sambung dia.

Simbol Ketuhanan dan Pengobatan Tradisional Kuno

Masyarakat Mataram masa lampau juga melibatkan cabai dalam ubarampe sesaji pemuliaan para wali serta tradisi sakral midodareni. Sementara itu, peletakan lombok merah di puncak kerucut nasi tumpeng memancarkan makna filosofis yang sangat luhur.

“Kita juga masih ingat betul sewaktu diadakan tumpengan dalam upacara, slametan. Pastinya ada lombok ditaruh di pucuk tumpeng sebagai simbolisasi Tuhan,” terang dia.

Alhasil, cabai menempati posisi vital dalam peradaban nusantara sejak berabad-abad silam, mulai dari ranah spiritual hingga ranah kesehatan. Pasalnya, nenek moyang masyarakat Indonesia juga memanfaatkan tanaman pedas ini sebagai obat herbal mujarab pereda sakit tenggorokan dan nyeri rematik.

Poin Penting Seputar Cabai di Indonesia:

  • Bukan Tanaman Asli: Cabai dibawa oleh penjelajah Spanyol dan Portugis dari Benua Amerika ke Indonesia pada abad ke-16.
  • Efek Biologis Nagih: Rasa pedas mengaktifkan enzim amilase yang mendongkrak nafsu makan, sehingga orang Indonesia tidak pernah kapok mengonsumsinya.
  • Makna Filosofis & Spiritual: Naskah kuno Serat Centhini (1823) mencatat cabai dan sambal sebagai sesaji doa, bahkan menjadi simbol Ketuhanan di puncak nasi tumpeng.
  • Khasiat Medis Leluhur: Selain sebagai bumbu dapur dan ritual adat, cabai telah lama dimanfaatkan masyarakat tradisional untuk meredakan radang tenggorokan dan rematik.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles