Sunday, November 8, 2026

Awas Deepfake & Phishing AI! Indonesia Jadi Target Hacker Nomor 2 di Asia Tenggara

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi pedang bermata dua yang makin mengancam keamanan data digital masyarakat. Di satu sisi, teknologi ini menangkal kejahatan siber, tetapi para peretas justru menggunakannya untuk melancarkan serangan otomatis.

Studi Kaspersky 2026 mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa 43 persen organisasi meyakini peretas sudah lihai menggunakan AI. Sebanyak 21 persen responden bahkan menilai para hacker melangkah jauh lebih lincah daripada tim keamanan siber.

Dampak serangan AI ini terlihat amat nyata lewat maraknya kasus penipuan keuangan di kawasan Asia Tenggara sepanjang 2025. Indonesia sendiri menempati urutan kedua sebagai target serangan phishing terbanyak dengan mencatat 85.908 kali percobaan kejahatan.

Baca Juga: Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus Lagi, MK Sebut sebagai Hak Milik Pribadi

Bahaya AI tidak cuma mengintai sektor perbankan, melainkan juga merambah dunia hiburan digital tanah air. Pelaku kejahatan memanfaatkan AI untuk membuat deepfake palsu hingga meretas infrastruktur distribusi konten secara kilat.

Maraknya ancaman ini mendorong hampir seluruh organisasi di Asia Pasifik untuk segera memasukkan AI ke sistem keamanan mereka. Kaspersky menegaskan bahwa menambahkan fitur AI saja tidak cukup jika tidak terhubung dalam satu platform terpadu.

General Manager untuk ASEAN dan Asia Emerging Countries (AEC) Kaspersky, Simon Tung, menilai tantangan utama perusahaan saat ini bukan lagi soal apakah AI perlu digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut diimplementasikan agar benar-benar meningkatkan efektivitas operasional.

Simon Tung menjelaskan bahwa sistem AI yang berdiri sendiri tanpa integrasi justru membuat pekerjaan tim keamanan menjadi makin rumit. Integrasi data secara menyeluruh merupakan kunci utama agar AI bisa mendeteksi ancaman secara presisi.

Foto by AI chatGPT

Menurutnya, solusi AI yang berdiri sendiri justru berpotensi menambah kompleksitas apabila memerlukan konfigurasi manual yang rumit. Sebaliknya, AI yang terintegrasi langsung dalam proses deteksi, investigasi, dan respons dinilai lebih efektif membantu tim keamanan menghadapi ancaman yang berkembang semakin cepat.

Kaspersky memberikan panduan agar perusahaan menyusun tata kelola AI yang jelas serta transparan sesuai aturan hukum. Penerapan solusi AI harus berjalan secara bertahap dengan indikator keberhasilan yang bisa diukur dengan pasti.

Pertumbuhan kejahatan siber berbasis AI ini menuntut kehadiran sistem pertahanan otomatis yang responsif dan tangguh. Langkah ini krusial demi memperkuat analis keamanan dalam mengambil keputusan cepat saat diserang peretas.

Emran
Emranhttp://hypetoday.id
Suka membaca, menulis dan mencoba hal baru

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles