Hypetoday.id – Drama persidangan Nikita Mirzani vs Dokter Reza Gladys rame lagi, guys! Kali ini, muncul plot twist yang datang dari seorang praktisi hukum, Deddy DJ, yang analisisnya bisa jadi game-changer di kasus ini.
Saat semua mata tertuju pada tuduhan pemerasan, Deddy DJ justru datang dengan vibe yang beda. Menurutnya, kasus yang bikin heboh ini sebenernya bukan soal peras-memeras, lho. Ia bilang ini lebih mirip drama kesepakatan bisnis yang nggak berjalan sesuai rencana.
Saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/7/2025), Deddy dengan tegas nge-spill pandangannya.
“Bahwa ini adalah bukan ranahnya pidana. Ini adalah bentuk daripada kesepakatan yang dibuat oleh RG dan NM,” ucapnya.
Logikanya gini, guys. Kata Deddy, kalau ini beneran pemerasan, korban pasti bakal menghindar. Tapi di kasus ini, yang terjadi justru sebaliknya. Pihak Dokter Reza Gladys disebut sebagai pihak yang aktif nyariin Nyai. Coba bayangin.
“Kalau pemerasan itu justru RG bukan mendatangi, bukan mencari tahu NM gitu loh. Tetapi ini kan RG yang mencari tahu,” tegasnya.
Jadi, kalaupun ada deal yang nggak sesuai ekspektasi, harusnya diselesain lewat jalur negosiasi atau gugatan perdata, bukan malah lapor polisi. Menurutnya, tuduhan pemerasan jadi aneh karena semua berawal dari kesepakatan dua belah pihak.
“Ketika kesepakatan yang dibuat ini ternyata tidak sesuai, itu kan tinggal dibicarakan aja baik-baik… tidak langsung serta-merta dia mengatakan, ‘Saya diperas,’ ya nggak bisa begitu,” jelasnya lagi.
Nggak cuma itu, Deddy DJ juga ngasih clap back pedas soal permintaan kubu Reza Gladys yang minta sidang dipercepat jadi dua kali seminggu. Ia nyindir permintaan itu seolah-olah kasus ini paling spesial se-pengadilan.
“Siapa yang minta dibuat seminggu dua kali? Pengacaranya RG? Memangnya dia siapa? Minta seminggu sidang tiga kali. Perkara memang perkara dia aja yang dipegang oleh pengadilan sini?” sindirnya. Mic drop!

Reading this evokes a serene sense of presence, like standing in a sunlit garden. Each word reveals subtle nuances and layered meaning, inviting the reader to pause, reflect, and experience the text meditatively.