Isu keprihatinan publik mendadak mencuat di tengah jagat maya usai fenomena perundungan digital menyasar seorang pasien fasilitas kesehatan masyarakat. Psikolog klinis senior sekaligus pendiri Personal Growth, Ratih Ibrahim, langsung melontarkan peringatan keras agar seluruh masyarakat—khususnya para profesional—kembali bijak menggunakan jemari mereka di ruang siber. Pasalnya, rekam jejak aktivitas digital seseorang secara otomatis merefleksikan karakter, nilai dasar, hingga tingkat integritas pribadinya.
Pernyataan menohok sang psikolog ini mencetus pasca viralnya unggahan mendiang Yurizal Tri Chaerawan di platform media sosial. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya pada 31 Juli 2026, pasien BPJS Kesehatan tersebut sempat menumpahkan keluhannya akibat harus mengantre ketersediaan kamar rawat inap hingga delapan jam. Namun, sejumlah oknum tenaga kesehatan justru melontarkan perundungan terhadap unggahan Yurizal di ruang publik digital hingga memicu amarah netizen.
Integritas Nakes Teruji di Ruang Digital
Menanggapi tragedi pilu tersebut, Ratih Ibrahim menegaskan bahwa media sosial memang menjadi wahana bebas untuk mengekspresikan diri. Namun, perempuan lulusan Universitas Indonesia yang kerap menjadi narasumber kesehatan mental ini mengingatkan bahwa kebebasan tersebut wajib berjalan beriringan dengan rasa tanggung jawab. Oleh karena itu, masyarakat tidak bisa asal mengunggah konten tanpa memikirkan konsekuensi moral yang mengikutinya.
Selain itu, persoalan etika ini menjadi sorotan yang sangat krusial bagi mereka yang berkarier di dunia medis. Sebab, profesi kesehatan menggantungkan seluruh eksistensinya pada tingkat kepercayaan (trust) publik. Sementara itu, Ratih menegaskan bahwa etika profesional seorang nakes tidak boleh luntur saat mereka melangkah keluar dari area rumah sakit atau fasilitas kesehatan.
Baca Juga:Â Berburu Gadget Masa Depan di Pasar AI Huaqiangbei, Penjualan Kacamata Pintar Melonjak Dua Kali Lipat!
Di sisi lain, para tenaga kesehatan wajib memelihara rasa empati serta menjunjung tinggi nilai martabat pasien kapan saja dan di mana saja. Mereka harus bisa menjaga kerahasiaan data medis pasien secara ketat saat mengoperasikan akun pribadi. Bahkan, batasan profesional tersebut tetap harus berlaku kokoh meski mereka sedang menghadapi tekanan kerja yang luar biasa berat.
“Di balik setiap akun media sosial ada manusia dengan perasaan dan martabat,” kata Ratih.
Tiga Filter Utama Sebelum Mengunggah Konten
Selanjutnya, pakar psikologi yang sering mengedukasi anak muda ini meminta seluruh warganet menyadari dampak sistemik dari setiap interaksi digital. Ia mengimbau netizen agar menaruh tenggang rasa sebelum membagikan ulang atau menuliskan komentar yang dapat melukai nurani sesama. Oleh sebab itu, Ratih membagikan tiga formula penting sebagai pertimbangan utama sebelum seseorang menekan tombol publikasi di media sosial.
Pertama, pengguna wajib memverifikasi secara mandiri apakah informasi tersebut bernilai benar atau sekadar asumsi. Kedua, masyarakat perlu mempertimbangkan urgensi informasi tersebut sebelum menyebarkannya ke publik. Ketiga, setiap individu harus memastikan bahwa pesan yang mereka sampaikan tetap menggunakan tata bahasa yang sopan dan menghormati harkat orang lain.

“Sebelum mengunggah atau berkomentar, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini benar dan perlu? Apakah ini disampaikan dengan cara yang menghormati orang lain?” pungkasnya.
