Sunday, November 8, 2026

The Jansen Rilis Romantisasi Impulsif, Sindir Toxic Positivity!

Band punk asal Bogor, The Jansen, resmi meluncurkan album penuh terbaru bertajuk Romantisasi Impulsif. Karya ini menjadi penutup manis bagi rangkaian trilogi musik yang telah mereka bangun sejak beberapa tahun lalu.

Album ini merangkum 12 lagu yang mengajak pendengar merenungkan dinamika cita-cita dan kenyataan. Adji dan Tata mengerjakan proyek ambisius tersebut selama kurun waktu yang cukup panjang.

Dua personel utama ini membeberkan filosofi judul album mereka saat berbincang santai di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). Mereka menilai banyak orang saat ini sering terjebak dalam jebakan toxic positivity.

Baca Juga: Gara-Gara FYP, Slank Siapin ‘Racun’ Musik Buat Gen Z Lewat Album Live!

Adji menjelaskan bahwa istilah romantisasi berakar dari kecenderungan manusia yang sering meromantisir hidup secara berlebihan. Ia sengaja menambahkan kata impulsif untuk menegaskan kadar “racun” dalam narasi album tersebut.

“Romantisasi-nya tuh berasal dari meromantisir hidup, sesuatu yang jelek atau yang nggak baik, tapi kita anggap itu baik, itu indah, hal-hal yang kayak gitu. Akhirnya jadi istilahnya kayak toxic positivity gitu dan ditambahin ‘Impulsif’ jadi kayak toxic-nya tuh toxic banget, double gitu, impulsif. Jadi ya dari secara tajuk pakai ‘Romantisasi Impulsif’,” tutur Adji.

Tata meramu aransemen musik dengan nuansa post-punk yang pekat namun tetap meledak-ledak. Baginya, melodi dalam album ini sangat pas untuk menggambarkan sebuah perayaan di tengah kegelapan.

“Terus kayak saya mikir, ‘Oh… perayaan tapi yang dirayakannya tuh soal kematian gitu.’ Itu kan cocok banget mewakili post-punk itu sendiri gitu, gelap tapi musiknya bisa buat pecah gitu lah ya,” tutur Tata.

Foto by instagram @thejansen_id

Musikalitas mereka juga mendapatkan pengaruh kuat dari gaya bahasa Remy Sylado hingga penggunaan tangga nada Tiongkok. Mereka bahkan menyerap nuansa Kalimantan ke dalam lagu setelah melakukan tur di pulau tersebut sebelum masuk dapur rekaman.

Tata menegaskan bahwa album Romantisasi Impulsif hanyalah sebuah arsip perasaan yang kini menjadi milik pendengar sepenuhnya. Kelompok musik ini justru sengaja membiarkan adanya rasa tidak puas agar mereka terus terpacu untuk berkarya.

“Justru rasa gak puas itu yang bikin kita terus mau nulis dan eksperimen lagi. Kalau sudah merasa puas sama satu album, ya udah selesai, mati kreatifnya. Jadi ya emang sengaja dibiarin ada rasa enggak puasnya biar tetep penasaran ke depannya,” pungkas Adji.

Emran
Emranhttp://hypetoday.id
Suka membaca, menulis dan mencoba hal baru

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles