Sunday, November 8, 2026

Siera Anugerahkan Gelar Kehormatan Fihra kepada 56 Tokoh, Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) resmi menganugerahkan gelar kehormatan FIHRA kepada 56 tokoh terpilih di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026). Momentum bersejarah ini menjadi tonggak akselerasi baru dalam memperkokoh benteng ketahanan kesehatan nasional menghadapi berbagai ancaman krisis global.

Para penerima penghargaan prestisius tersebut berasal dari beragam latar belakang profesi strategis, mulai dari jajaran dokter spesialis, ilmuwan bergelar doktor, hingga para guru besar terkemuka. Selain itu, penganugerahan ini menuntut dedikasi nyata para akademisi dan praktisi agar tidak sekadar menyandang titel di atas kertas.

Ketua Umum SIERA Mayjen TNI (Purn) Dr. Dr. Dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi menegaskan pemberian apresiasi ini terbagi ke dalam dua jalur seleksi yang sangat ketat. Pasalnya, organisasi mengombinasikan jalur penghargaan kehormatan (honoris causa) dengan jalur pendidikan serta pelatihan intensif berbasis kompetensi.

Para peserta jalur pelatihan wajib menuntaskan program pemantapan materi selama berbulan-bulan sejak Juni lalu demi memenuhi standar kualifikasi kelulusan. Alhasil, setiap kandidat harus melewati tahapan uji komprehensif, mulai dari pre-test, lokakarya luring, hingga simulasi pemecahan masalah kesehatan publik.

“Teman-teman yang saat ini mendapatkan gelar itu sudah melalui pendidikan dan pelatihan yang kita lakukan berhari-hari sejak bulan Juni. Ada pre-test, post-test, hingga workshop offline. Setelah itu dilakukan ujian yang harus memenuhi kriteria kelulusan. Jadi gelar ini bukan sekadar pemberian, tetapi atas usaha dari para penerima,” ujar Mayjen dr. Dian saat ditemui di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).

STANDAR KETAT PENGANUGERAHAN GELAR KEHORMATAN FIHRA

Proses penyaringan yang memakan waktu hingga empat bulan ini bertujuan mencetak agen perubahan yang siap terjun langsung memitigasi bencana kesehatan di pelosok negeri. Sementara itu, jenderal purnawirawan bintang dua perempuan tersebut mendorong para lulusan melahirkan terobosan medis yang solutif bagi masyarakat akar rumput.

“Negara itu akan kuat kalau kesehatannya kuat. Kita berupaya bagaimana masyarakat menjadi sehat mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Kami berharap setelah mendapatkan gelar ini, mereka benar-benar mengabdikan diri melalui berbagai inovasi dan kreasi,” tegas Dian.

KOLABORASI STRATEGIS MITIGASI BENCANA IKLIM DAN KARHUTLA

Para peraih gelar kehormatan ini juga langsung diterjunkan dalam forum internasional Climate Resilience and Adaptation (CRA-3) guna memperluas wawasan praktis. Di sisi lain, keterlibatan mereka difokuskan pada penanganan dampak kesehatan ekstrem akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Ancaman kabut asap pekat dinilai memerlukan pendekatan lintas disiplin agar gangguan saluran pernapasan pada kelompok rentan dapat ditangani lebih cepat dan tepat sasaran. Oleh karena itu, sinergi antara keahlian hukum kesehatan dan penanganan medis darurat menjadi formula krusial dalam merespons krisis ekologis tersebut.

GERAKAN KOLEKTIF GENERASI MUDA BELA KETAHANAN BANGSA

Inisiatif pembinaan ketahanan kesehatan ini memicu respons antusias dari kalangan akademisi muda yang haus akan ruang pengabdian nyata. Selanjutnya, salah satu penerima gelar dari Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) Syamsul Jahidin menilai program ini sebagai bukti konkret kontribusi intelektual bagi kedaulatan negara.

“Beliau ini dosen kami yang menggagas program-program ini, termasuk bagaimana menjaga stabilitas resiliensi ketahanan kesehatan masyarakat yang terdampak karhutla. Ini salah satu bentuk pengabdian nyata untuk Republik Indonesia,” pungkas Syamsul.

BACA JUGA: Pindah Lokasi Baru, Scream or Dance 2026 Siap Guncang JIExpo

Partisipasi aktif generasi muda diyakini mampu mempercepat adopsi teknologi kesehatan mutakhir dalam sistem tanggap darurat bencana di tanah air. Namun, keberlanjutan jejaring kolaborasi antara praktisi, akademisi, dan pemerintah tetap menjadi penentu utama efektivitas program ini di masa depan.

Pemberian gelar kehormatan FIHRA menjadi bukti bahwa penguatan resiliensi kesehatan tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur rumah sakit fisik semata. Selain itu, investasi pada kapasitas intelektual para profesional medis akan memastikan Indonesia lebih tangguh menghadapi potensi pandemi maupun bencana lingkungan mendatang.

Hype Highlights:

      • SIERA resmi menyematkan gelar Fellow of Indonesia Health Resilience Association (FIHRA) kepada 56 tokoh dari kalangan dokter spesialis, doktor, hingga profesor.
      • Penganugerahan gelar FIHRA ditempuh melalui dua jalur, yakni penghargaan kehormatan (honoris causa) dan program pelatihan intensif selama 3 hingga 4 bulan.
      • Para peraih gelar dilibatkan langsung dalam forum Climate Resilience and Adaptation (CRA-3) untuk merespons krisis kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
      • Program ini menjadi wadah kolaborasi konkret akademisi lintas generasi guna memperkokoh sistem ketahanan kesehatan preventif hingga kuratif nasional.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles