Lanskap perfilman nasional siap diguncang terobosan baru lewat peluncuran proyek film horor medis Begu Ganjang yang mengangkat mitos kelam dari tanah Sumatra Utara. Rumah produksi anyar Delapan Entertainment Studios secara resmi mengumumkan adaptasi layar lebar dari novel best seller karya dr. Ferdiriva Hamzah tersebut.
Karya sinema ini memadukan ketegangan ilmu kedokteran modern dengan legenda gaib suku Batak yang telah mengakar selama ratusan tahun. Langkah berani ini langsung membetot atensi Gen Z lantaran menawarkan premis horor psikologis tanpa mengandalkan formula usang yang klise.
Selain itu, adaptasi ini berakar dari novel laris yang telah menembus angka penjualan lebih dari 50.000 eksemplar hingga cetakan keempat. Pertarungan antara pembuktian rasional ilmiah melawan kutukan makhluk gaib pembawa maut menjadi daya tarik utama cerita.
Benturan Tajam Logika Dokter dan Kutukan Gaib
Penulis novel sekaligus dokter spesialis mata tersebut membeberkan alasan filosofis di balik penciptaan karya sastra medis mistis yang sangat jarang ditemui di Indonesia.
“Iya. Sebagai dokter, di sini sebagai penulis juga saya ingin di film ini bukan cuma mengedepankan horor gitu ya, tapi juga ya hubungan antara pemikiran modern dengan pemikiran tradisional. Gitu ya, jadi yang dibahas adalah benturan, ya. Antara juga medis dan juga apa mitos. Juga dokter, dukun. Jadi dua gagasan yang berseberangan nih. Ya, jadi dijadikan satu cerita. Dan saya harap itu semuanya terdapat di filmnya nanti,” ujar dr. Ferdiriva Hamzah saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10).
Oleh karena itu, narasi cerita berpusat pada tokoh dokter muda bernama Tobias yang skeptis terhadap segala bentuk takhayul mistis di sekitarnya. Karakter rasional tersebut diperankan secara mendalam oleh Randy Pangalila bersama Nasya Marcella yang memerankan dokter residen kejiwaan.
Kendati demikian, keyakinan ilmiah sang dokter mulai runtuh tatkala ia bertugas di Rumah Sakit Rotua dan menyaksikan kematian misterius para pasiennya. Ia dipaksa berhadapan dengan teror sesosok makhluk tak kasat mata yang tubuhnya kian menjulang tinggi saat dipandang.
Atmosfer Mencekam Tanpa Banyak Kaget-Kagetan
Nakhoda penyutradaraan Arwin Tri Wardhana menegaskan bahwa gaya visual film ini sengaja dirancang tanpa obral jump scare murahan di setiap adegan. Ia memprioritaskan terbangunnya nuansa kengerian psikologis yang merayap secara perlahan di lorong-lorong sunyi rumah sakit.
“Justru, ya. Suasana creepy-nya itu, kalian… Iya, yang tidak melulu jump scare. Bukan berarti gak ada, ya. Bukan melulu jump scare, tapi serem. Makanya ini nanti yang harus diantisipasi,” tuturnya.
BACA JUGA:Â Garap Film Horor Begu Ganjang, Rama Michael Resmi Debut Jadi Produser
Sementara itu, tim produksi melibatkan dokter sekaligus penulis naskah profesional, dr. Senja, demi menjaga ketepatan prosedur tindakan medis dalam film. Para aktor utama bahkan diwajibkan mengikuti pelatihan khusus agar mampu mempraktikkan simulasi pembedahan bedah dan penanganan kejiwaan secara meyakinkan.
Pasalnya, proses penulisan skenario mengalami perombakan naskah secara intensif hingga melewati delapan draf revisi demi mematangkan alur drama. Keseimbangan antara data ilmiah dan keaslian riset adat Batak menjadi fokus utama diskusi lintas profesi ini.
Transformasi Aktor Laga Menjadi Produser
Di sisi lain, mantan pesinetron Rama Michael kini mengambil peran krusial di balik layar sebagai Direktur Utama sekaligus produser eksekutif proyek layar lebar ini. Pria berusia 42 tahun tersebut resmi kembali ke panggung perfilman setelah sempat menepi dari dunia akting selama hampir satu tahun.
“Delapan Entertainment Studios hadir dengan visi besar untuk memajukan lanskap kreatif ke skala yang lebih luas. Kami tidak hanya memosisikan diri sebagai rumah produksi, melainkan sebuah ekosistem integratif. Melalui kekuatan sinergi bersama 8 Management yang telah membentuk industri hiburan dan melahirkan talenta papan atas selama dua dekade, kami berkomitmen menciptakan IP (intellectual property) lokal berstandar global,” jelasnya.

Foto: Istimewa
Alhasil, rumah produksi ini siap menggelar proses pengambilan gambar mulai akhir Oktober 2026 dengan memanfaatkan lanskap autentik kota Medan dan Jakarta. Sekitar tiga puluh persen porsi visual film diambil langsung di kawasan Sumatra Utara demi memperkuat atmosfer kedaerahan.
Selanjutnya, proyek film horor medis Begu Ganjang diproyeksikan berkembang menjadi ekosistem kekayaan intelektual terpadu hingga ke ranah serial digital. Kolaborasi lintas industri ini dipastikan menjadi standar baru bagi industri sinema tanah air dalam mengangkat mitos lokal ke pentas internasional.
Hype Highlights:
-
-
- Film Begu Ganjang mengusung genre medical horror mystery perdana yang mempertemukan logika medis rumah sakit dan mitos mistis Batak.
- Diadaptasi dari novel laris karya dr. Ferdiriva Hamzah yang telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar.
- Menjadi debut mantan aktor Rama Michael sebagai produser dan Direktur Utama PT Delapan Entertainment Studios.
- Menampilkan Randy Pangalila dan Nasya Marcella dengan proses syuting 30 persen berlangsung di lokasi asli Sumatra Utara.
-
