Hypetoday.id – Di saat banyak orang merasa down karena keterbatasan, pelukis senior Tommy Pangesa justru glowing up dengan cara yang unexpected. Bayangin aja, kena stroke yang bikin tangan kanannya lumpuh, eh dia malah lanjut ngelukis pakai tangan kiri dan hasilnya tetap slay!
Yap, kamu nggak salah baca. Selama dua tahun terakhir, Pak Tommy beradaptasi dengan kondisi barunya. Meski tangan dominannya nggak bisa lagi dipakai buat berkarya, semangatnya nggak pernah padam. Dengan vibes yang super positif, ia membuktikan kalau passion itu nggak ada matinya.
“Iya, sudah dua tahun ini karena stroke, saya ngelukis dengan tangan kiri,” ucapnya santai saat ditemui tim Hypetoday.id di kediamannya di kawasan Pluit, Jakarta Utara, pada Sabtu (11/10/2025).
Buat seorang seniman, ini jelas bukan hal gampang. Tapi Pak Tommy literally mengubah musibah jadi berkah. Selain karena cinta matinya sama seni, ia juga harus tetap hustle buat hidup. “Kalau nggak ya makan apa,” ujarnya jujur. Kerennya lagi, karya-karya tangan kirinya ini tetap laris manis diburu kolektor langganan dari luar negeri, lho!
Nggak cuma itu, Pak Tommy juga punya statement keren soal gempuran seni AI yang lagi viral. Menurutnya, AI boleh canggih, tapi nggak akan pernah bisa meniru ‘jiwa’ dari karya seni buatan tangan manusia. Dia bahkan punya teknik andalan yang anti-mainstream: ngelukis pakai sendok! Yes, you heard it right, sendok!
“Saya nggelukis dengan cat yang tebal dan mempergunakan sendok. Jadi istilahnya nggak mau ngikut orang lah,” ungkapnya. “AI itu luar biasa, tapi itu akan ketinggalan juga nanti waktunya. Kalau seni yang nyiptain, yang bikin, itu the only one, itu nggak bisa.”

Kini, setelah puluhan tahun malang melintang di dunia seni dan ikut pameran di berbagai negara, Pak Tommy punya satu big dream: menggelar pameran tunggal. “Tadinya rencana pameran, tapi tertunda,” katanya, menandakan kalau mimpi itu masih terus ia perjuangkan.
Kisah Pak Tommy Pangesa ini jadi reminder banget buat kita semua, Gen Z. Bahwa keterbatasan itu cuma ada di pikiran, dan passion yang tulus bakal selalu nemuin jalannya. So, apa alasanmu buat nggak berkarya hari ini?
Kisah hidupnya yang penuh lika-liku, mulai dari bisnisnya yang ludes terbakar di tragedi ’98, pindah ke Singapura, hingga kembali bangkit sebagai pelukis, benar-benar jadi bukti nyata dari semangat pantang menyerah. Respect
